Kamis, 24 Agustus 2017

Waykanan jadi sentra produksi lada

id Lada, Waykanan
Waykanan jadi sentra produksi lada
Suratman, pekebun lada Pancanegeri, Blambanganumpu, Waykanan, Lampung, menunjukkan buah lada muda di kebunnya. ( Foto ANTARA/Gatot Arifianto/istimewa)
Waykanan (Antara Lampung) - Pemerintah Kabupaten Waykanan, Provinsi Lampung, berusaha meningkatkan kembali produksi lada yang sempat merosot hingga 15 persen selama 2016.


Kepala Dinas Perkebunan Waykanan Beni Aras di Blambanganumpu, Waykanan, Minggu, mengatakan bahwa pada tahun 2016 luas lahan lada mencapai 3,872 hektare dengan produksi sebanyak 413 ton.


Produksi tersebut mengalami penurunan dari tahun sebelumnya mencapai 15 persen. Pada tahun ini, akan ditingkatkan terutama petani agar kembali mencintai, merawat, dan menamam lada kembali.


Menurut Bani Aras, dari 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Waykanan, terdapat lima kecamatan yang tidak memiliki lahan perkebunan lada.


Hasil setiap kecamatan yang memiliki lahan lada berbeda-beda, mulai dari jumlah yang belum menghasilkan, menghasilkan, hingga tanaman rusak.


Misalnya, Kecamatan Gununglabuhan, luas lahan perkebunan rakyat, khususnya lada, mencapai 1.550 hektare, ini dibagi menjadi tiga, yaitu belum menghasilkan (BM) 180 hektare, menghasilkan 145 hektare, dan tanaman rusak (TR) 500 hektare.


"Produktivitas setiap hektare mencapai 0,15 dikalikan dengan luas areal yang menghasilan 145 hektare," katanya.


Panen yang kurang dari 50 ton, yaitu Kecamatan Baradatu, 46 ton, Banjit 33 ton, Blambanganumpu 26 ton, Waytuba 9 ton, dan Negeri Agung 8 ton.


Daerah yang tidak ada penghasilan, yaitu Negarabatin. Walaupun memiliki lahan pertanian, tidak memiliki hasil pertanian lada.


Pada tahun 2017, lanjut Beni Aras, Pemerintah Kabupaten Waykanan akan meningkatkan hasil lada yang selama ini mengalami penyusutan yang sangat drastis. Bila tidak ditanggulangi, bisa menjadi ancaman yang serius karena lama-kelamaan akan makin menghilang tanaman lada tersebut.


Selain itu, hasil panen dari 2007 hingga 2016 mengalami penurunan yang sangat signifikan. Hanya pada tahun 2010 dan 2011 yang mengalami hasil panen di atas 2.000 ton, sedangkan sisanya hanya di bawah 2.000 ton, dan pada tahun 2016 sebanyak 413 ton.


Hal itu, kata Beni, harus ditanggulangi dengan cara sosialisasi kepada seluruh petani lada agar tidak mati lahan pertaniannya. Pasalnya, sebelumnya Waykanan merupakan penghasil lada terbesar, jangan sampai sandingan nama tersebut menjadi terbalik, yaitu Waykanan tidak memiliki penghasil lada.


Mantan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Waykanan itu berharap para petani terus meningkatkan produksi lada, minimal pada tahun ini naik menjadi angka 750 ton, atau jangan sampai di bawah 500 ton.


Menurut Wakil Bupati Waykanan Edward Antony, tanaman lada yang ada bisa ditingkatkan kembali produksinya sebab hampir 10 tahun perkebunan lada di Kabupaten Waykanan mengalami kejayaan.


"Hanya pada tahun 2016 kejayaan tersebut tidak ada lagi karena hasilnya yang begitu mengecewakan," ujarnya.

ANTARA

Editor: Hisar Sitanggang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0058 seconds memory usage: 0.35 MB