Selasa, 24 Oktober 2017

Jet "Rusia" serang gerilyawan di perbatasan Turki

id Perang Irak dan Suriah, Rusia
Jet
Pesawat tempur Rusia Su-34 melakukan pengeboman/file (sputniknews.com)
Amman (Antara/Reuters) - Pesawat jet diyakini milik Rusia menyerang pos gerilyawan moderat di Suriah barat laut,  dekat perbatasan utama dengan Turki, menewaskan sedikit-dikitnya satu petempur dan melukai beberapa orang, kata gerilyawan, Minggu.
        
Mereka mengatakan beberapa serangan semalam terjadi di Babeska, desa di provinsi Idlib, yang menjadi surga bagi beberapa gerilyawan moderat Tentara Pembebasan Suriah (FSA), terutama Jaish al Islam, kelompok utama gerilyawan, yang menguasai kubu besar terakhir gerilyawan di ambang pintu ibukota Suriah.
        
Jaish al Islam adalah penandatangan gencatan senjata rapuh, yang ditengahi Rusia dan Turki pada akhir tahun lalu. Kelompok gerilyawan mengatakan Rusia gagal menekan pemerintah Suriah untuk memastikan gencatan senjata berlangsung.
        
Pemerintah Suriah menganggap Jaish al Islam kelompok teroris dan menyalahkan kelompok itu serta sejumlah kelompok gerilyawan lain atas serangan baru-baru ini terhadap daerah dikuasai pemerintah di ibu kota.
        
Desa itu juga menjadi rumah bagi ratusan keluarga dan petempur dari pinggiran Damaskus, wilayah Daraya yang dievakuasi oleh pemberontak dan menyerah kepada kontrol pemerintah tahun lalu.
        
Jet perang yang juga diyakini milik Rusia juga menyerang kota Urum al Kubra di daerah kekuasaan gerilyawan di kawasan pedesaan barat Aleppo di mana lima warga sipil tewas. Kawasan itu menjadi lokasi pertempuran antara kelompok gerilyawan dan tentara Suriah, kata gerilyawan.
        
Sementara itu, jumlah orang Suriah yang  menyelamatkan diri ke Turki, Mesir, Irak, Jordania dan Lebanon akibat perang yang berkepanjangan di negeri mereka telah melampaui angka lima juta, kata Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR), pekan lalu.
        
Menurut data terkini yang dikumpulkan oleh UNHCR dan Pemerintah Turki, 5.018.168 orang Suriah telah meninggalkan negeri mereka dan mengungsi di wilayah itu sejak konflik Suriah meletus pada Maret 2011.
        
Meskipun pertemuan tingkat tinggi mengenai Suriah diselenggarakan tahun lalu dengan tujuan menampung 10 persen dari seluruh pengungsi sampai 2018, UNHCR, sebagaimana dilaporkan Xinhua memperingatkan hanya 250.000 tempat buat pengungsi telah tersedia setakat ini.
        
"Kami masih menghadapi jalan panjang untuk mengembangkan penampungan dan jumlah serta jarak jalur yang tersedia buat pengungsi," kata Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi Filippo Grandi di dalam satu pernyataan.
        
"Untuk menanggulangi tantangan ini, kami bukan hanya memerlukan tempat tambahan, tapi juga mempercepat pelaksanaan janji yang diberikan," katanya.

Penerjemah : GNC Aryani/B Soekapdjo

ANTARA/Reuters

Editor: Hisar Sitanggang

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0096 seconds memory usage: 0.46 MB