Kamis, 24 Agustus 2017

Pelajar-Aktivis LSM Kampanye Hari Air Sedunia

id air bersih
Pelajar-Aktivis LSM Kampanye Hari Air Sedunia
Ilustrasi air bersiah (newair)
Lampung Selatan (ANTARA Lampung) - Para pelajar bersama aktivis lembaga swadaya masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung memperingati Hari Air Sedunia, Rabu, dengan kampanye untuk penyelamatan sumber secara bersama-sama

Ketua Siswa Pencinta Alam (Sispala) Lingkar Generasi Hijau SMA Ma`arif 1 Sukatani, Kalianda, Lampung Selatan Intan Pandini menyatakan, peringatan Hari Air Sedunia itu dipusatkan di Lapangan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Tugu Adipura), Rabu siang hingga selesai.

Rangkaian kegiatannya adalah orasi kampanye penyelamatan air dan sejumlah kegiatan lain seperti bersih bersih sampah di sekolah, teatrikal krisis air, dan diskusi yang melibatkan Sispala Lingkar Generasi Hijau, Pramuka, OSIS, Rohis, LSM Wanacala Lampung, KPA, PMR, dan Teater CS, dan Risel Sumur Kumbang.

Pihaknya menampilkan pula pembacaan puisi, diskusi krisis air Lampung, permainan (outbond siswa), dan menonton cerita tentang krisis air tahun 2070.

Dalam orasi yang disampaikan Koordinator Lapangan Hermansyah dari LSM Wanacala Lampung menyatakan bahwa keterlibatan pemerintah daerah dan PDAM Tirtayasa harus ikut aktif dalam melestarikan air dengan cara melakukan penyuluhan dan penanaman pada wilayah-wilayah sumber-sumber air khususnya pihak perusahaan pengelola air wajib melestarikan Gunung Rajabasa sebagai tempat usahanya.

"Selama ini kami melihat belum ada gerakan rehabilitasi atau ikut andil dalam pelestarian hutan lindung Gunung Rajabasa," katanya pula.

Intan Pandini mengingatkan air merupakan sumber daya alam yang sangat vital. Prasyarat untuk mencapai kehidupan yang berkelanjutan bertumpu pada tiga sektor, yaitu air, pangan, dan energi.

"Saat ini ancaman terberat berada pada sektor air bersih yang sangat signifikan. Akibatnya untuk memperoleh air bersih harus mengeluarkan biaya tambahan, seperti untuk membeli air bersih dalam kemasan dan para pengecer air keliling," ujarnya lagi.

Selain pembeli, sejumlah warga juga mulai berlomba menggali air tanah untuk sumur bor. Padahal semua itu dapat memicu krisis air yang dapat menimbulkan dampak lebih jauh, yaitu memunculkan kerentanan pangan, mengingat tanpa air mustahil tanaman dapat berproduksi dan tanpa air mustahil manusia dapat hidup.

Karena itu, Hermansyah mengingatkan pula bahwa krisis air juga dikhawatirkan dapat menimbulkan konflik horizontal antarpetani, petani pengguna air sawah dan pengusaha, antarmasyarakat perkotaan dengan pemerintah dan dengan industri.

Ia menegaskan air merupakan sumber kehidupan, karena itu memperoleh air merupakan hak asasi setiap orang, dan perspektif hak asasi manusia tentang pemenuhan kebutuhan dasar telah diartikulasikan pada tingkat dunia.

Dia menyebutkan, pada November 2003, Komite PBB untuk hak ekonomi, sosial dan budaya, (ekosob) mengatakan akses terhadap air adalah hal yang fundamental. Forum itu juga mengatakan air adalah barang sosial dan budaya.

Sebanyak 145 negara telah mengesahkan International Covenant Economic, Cultural and Social Right dan terikat pada kesepakatan untuk mempromosikan akses terhadap air bersih secara bersama dan tanpa diskriminatif.

Dalam peringatan Hari Air Sedunia itu, antara lain merekomendasikan usaha sederhana yang bisa dilakukan oleh masyarakat, yaitu memastikan terlibat dalam penyelamatan sumber air dengan cara tidak membuang sampah ke perairan sungai, terlibat dalam penanaman atau konservasi hutan, mengurangi volume pemakaian deterjen, mengurangi volume pemakaian air sebagai bentuk cara hemat air, dan membangun sumur-sumur resapan.

"Hal-hal yang terpenting lainnya yaitu mempertahankan budaya lokal yang memiliki persinggungan erat dalam konservasi air," ujar Hermansyah pula. (Ant)

Editor: Samino Nugroho

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0058 seconds memory usage: 0.35 MB