Sabtu, 23 September 2017

Danau Toba, Taman Bumi Yang Makin Rusak

id Danau Toba, Taman Bumi Yang Makin Rusak
Danau Toba, Taman Bumi Yang Makin Rusak
Kondisi hutan di sekitar Danau Toba makin rusak, seperti kondisi kawasan Tele di Kabupaten Samosir yang pepohannya kerap mati karena kebakaran. Kawasan Tele merupakan objek wisata utama jika hendak menikmati keindahan alam Danau Toba. (FOTO ANTARA LAMPUNG/Hisar Sitanggang)
Ditetapkannya Danau Toba, Sumatera Utara sebagai taman bumi nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia, karena perbaikan pengelolaan "geopark" dunia yang diusulkan ke UNESCO itu diharapkan bisa semakin meningkat.
             
"Penandatanganan prasasti geopark kaldera oleh Presiden itu patut disambut baik namun sekaligus harus dijadikan sebagai pemicu dalam mempertahankan kelestarian ekosistemnya. Sebab tanpa perbaikan pengelolaan, statusnya bisa dicabut," kata Marandus, pemerhati lingkungan Tobasa di Balige, Minggu.
             
Sayangnya, kata dia, saat ini hampir 80 persen sungai di wilayah kabupaten Toba Samosir (Tobasa) menjadi tempat pembuangan sampah domestik, hingga kondisi danau Toba diperkirakan telah kotor dan tercemar.
             
Penerima Kalpataru kategori lingkungan 2005 itu menyebutkan, peresmian taman bumi yang merupakan konsep konservasi gagasan UNESCO di bawah koordinasi the international network of geoparks (INOG) akan membuat danau Toba kian dikenal di tingkat dunia.
            
Sebab, lanjutnya, kawasan yang dikonservasi bukan hanya semata-mata demi alasan geologi, tetapi termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budayanya.
            
Marandus mengaku dirinya sangat prihatin melihat kondisi danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara yang kian bertambah parah itu. Bahkan, semangatnya yang selama ini begitu menggebu melestarikan lingkungan di sekitar danau Toba hampir pupus.
            
Keputusasaan itu muncul, kata dia, karena merasa tidak sanggup lagi melihat kerusakan yang terus terjadi di kawasan danau terbesar di Indonesia, dengan kedalaman sekitar 500 meter tersebut.
            
"Kini danau Toba merupakan kebanggaan yang mengkhawatirkan, karena begitu banyak pihak mengeksploitasinya, tanpa memikirkan dampak negative yang muncul akibat penanganan kurang bijak," keluhnya.
             
Memang, lanjut Marandus, masalah sampah pada aliran sungai menjadi salah satu penyebab tercemarnya danau Toba. Permasalahan itu adalah akibat ulah manusia, sehingga manusia jugalah yang harus menyelesaikannya dengan penanganan yang harus menjadi gerakan bersama.
             
Menurutnya, masyarakat dan pemerintah harus saling mendukung dan bergerak bersama. Pihak pemerintah jangan hanya sebatas menganjurkan atau hanya membuat kebijakan, namun perlu menunjukkan aksi nyata agar permasalahan sampah dalam ekosistem danau Toba selesai dengan tuntas.
            
Lebih lanjut dikatakannya, pemerintah dan aparat berwenang harus tegas dalam menindak pelaku perusakan lingkungan, sehingga upaya-upaya yang dilakukan para aktivis lingkungan tidak sia-sia.
            
"Selain itu, perlu dikembangkan kearifan lokal untuk membudayakan hidup bersih dan malu membuang sampah sembarangan, apalagi pada sungai," kata Marandus.

    
                                              Keunikan Konservasi Geologi
         
Kabid Penataan Wilayah Dinas Lingkungan Hidup Tobasa, Lukman Siagian menyebutkan Pemkab Tobasa sangat mendukung upaya penetapan Taman Bumi dengan dana sebesar Rp5 miliar dari Kementerian Pariwisata sebagai tindak lanjut pembangunan etalase Geopark di Kabupaten Samosir.
              
Menurut dia penetapan Geopark adalah salah satu jawaban atas kekhawatiran masyarakat dunia termasuk Indonesia atas eksistensi danau Toba yang mulai berobah fungsi menjadi tong sampah raksasa.
              
Pembahasan secara intensif antar Kabupaten se-kawasan danau Toba tentang berbagai upaya harus dilakukan. Perlu dilibatkan seluruh komponen masyarakat yang menggantungkan hidupnya dan memiliki keterkaitan dengan danau yang terletak di bagian tengah provinsi Sumatera itu.
            
"Kami berharap penetapan geopark danau Toba mampu menggugah kesadaran masyakat di sekitar, sehingga pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dapat berkonsentrasi melakukan penataan seluruh kawasan dengan baik," kata Lukman.
             
Bupati Samosir, Mangindar Simbolon menjelaskan, geopark kaldera toba merupakan taman bumi yang menceritakan tentang letusan gunung toba. Ahli Geologi telah mengadakan penelitian di kawasan danau dengan menetapkan beberapa geosite (lokasi bukti letusan).
           
Dikatakannya geosite pada sejumlah lokasi akan dibenahi dengan membuat papan informasi. Untuk itu dibutuhkan kerjasama dengan masyarakat guna merawat serta menjaga lokasi geosite dimaksud.
             
Menurut Mangindar kepemilikan tanah lokasi geosite tersebut tidak akan berubah, jadi masyarakat tidak perlu takut akan kehilangan hak miliknya. Nantinya pengelolaan lokasi geosite akan diserahkan kepada kelompok masyarakat.
            
Pusat informasi tentang geosite yang dinamakan etalase danau Toba itu akan dibangun di Sigulatti Kecamatan Sianjur Mula-mula, bekerjasama dengan UNESCO.
            
Di dalamnya, akan ada berbagai informasi dan film animasi yang menceritakan tentang meletusnya gunung Toba hingga terbentuknya pulau Samosir sekitar 75.000 tahun silam.
            
"Dengan dibangunnya pusat etalase di Samosir, tentu akan mendatangkan banyak wisatawan seperti halnya di Negara lain," kata Mangindar.

Redaktur : Hisar Sitanggang

Editor: Hisar Sitanggang

COPYRIGHT © ANTARA 2014

Baca Juga

Generated in 0.0085 seconds memory usage: 0.48 MB